AlHafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, "Para ulama sepakat bahwa yang dimaksud berdusta oleh istri dan suami hanyalah dalam hal-hal yang tidak sampai menggugurkan kewajiban suami ataupun istri, atau mengambil apa yang bukan haknya sebagai suami atau istri." Beberapa faedah yang bisa diambil dari hadits ini adalah sebagai berikut:
Sedangkanal-Ghusl (mencuci) dilakukan dengan adanya tekanan dan perasan." (Syarh Sunnah karya al-Baghawai 2/84-85) Pembedaan Antara Air Kencing Bayi Laki-Laki Dan Perempuan Ditinjau Dari Penemuan Ilmiah Modern. Penelitian ilmiah modern -yang dilakukan di bidang ini- mengungkapkan adanya perbedaan antara urin (air kencing) bayi anak dan
AlImam Al Bukhari telah meriwayatkan hadits di dalam Shahihnya (2585), dan hadits ini memiliki hadits-hadits pendukung yang lain. Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, beliau berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menerima hadiah dan membalasnya."
AbuBakar menjawab, "adalah yang ada di kandungan binti Kharijah - yakni istrinya Habibah yang tengah hamil- padahal menurut persepsi saya sebelumnya ia adalah seorang budak wanita, namun yang kenyataannya adalah seperti yang dikatakan oleh Abu Bakar Radhiyallahu `Anhu dan Ummu Kultsum lahir setelah wafatnya.
Diantara perbuatan sunnah yang jarang dilakukan kaum muslimin adalah sebagai berikut: 1. Mendahulukan Kaki Kanan Saat Memakai Sandal Dan Kaki Kiri Saat Melepasnya. Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Jika kalian memakai sandal maka dahulukanlah kaki kanan, dan jika
Dari'Aisyah radhiyallahu anha ia berkata, "Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menakjubkannya mendahulukan yang kanan ketika memakai sandal, menyisir, bersuci, dan pada setiap urusannya." (HR. Al-Bukhari no. 416 dan Muslim no. 268) PERAWI HADITS 'Aisyah radhiyallahu anha, Biografinya telah disebutkan pada hadits no. 3. KANDUNGAN HADITS
. Setelah gagal menyulut sentimen kesukuan ditengah para shahabat Rasûlullâh Shallallahu alaihi wa sallam, kaum munafik tidak lantas putus asa. Mereka memanfaatkan insiden lain untuk menyebar racun di tengah kaum Muslimin. Peristiwa ini terkenal dengan haditsul ifki kisah dusta. Kisah ini bermula ketika istri Nabi Shallallahu alaihi wa sallam yang mendapat giliran menyertai beliau Shallallahu alaihi wa sallam dalam perang Muraisi’ ini yaitu Aisyah Radhiyallahu anhuma kehilangan kalungnya saat perjalanan menuju Madinah pasca peperangan. Dalam perjalanan pulang itu, mereka beristirahat di sebuah tempat. Saat itu Aisyah Radhiyallahu anhuma keluar dari sekedupnya semacam tandu yang berada di atas punggung unta untuk suatu keperluan. Ketika kembali ke sekedupnya, beliau Radhiyallahu anhuma kehilangan kalung, akhirnya beliau Radhiyallahu anhuma keluar lagi untuk mencarinya. Saat kembali untuk yang kedua kali inilah, beliau Radhiyallahu anhuma kehilangan rombongan, karena Rasûlullâh Shallallahu alaihi wa sallam telah memerintahkan pasukan beliau Shallallahu alaihi wa sallam berangkat. Para shahabat yang menaikkan sekedup itu ke punggung unta tidak menyadari bahwa Aisyah Radhiyallahu anhuma tidak ada di dalamnya karena dia masih ringan. Beliau Radhiyallahu anhuma tentu gelisah karena ditinggal rombongan, namun beliau Radhiyallahu anhuma tidak kehilangan akal. Beliau Radhiyallahu anhuma tetap menunggu di tempat semula, dengan harapan rombongan Rasûlullâh Shallallahu alaihi wa sallam segera menyadari ketiadaannya dan kembali mencarinya di tempat mereka istirahat. Akan tetapi yang ditunggu tidak kunjung datang, sampai akhirnya salah shahabat Rasûlullâh Shallallahu alaihi wa sallam yang bernama Shafwân bin al-Mu’atthal as-Sulami lewat di tempat itu dan mengenali Aisyah Radhiyallahu anhuma , karena Shafwân Radhiyallahu anhu pernah melihat beliau Radhiyallahu anhuma saat sebelum hijab diwajibkan. Shafwân Radhiyallahu anhu kemudian membantu beliau Radhiyallahu anhuma . Shafwân menidurkan untanya agar Aisyah Radhiyallahu anhuma bisa naik unta sementara Shafwân menuntunnya sampai ke Madinah. Sejak bertemu dan selama perjalanan, Shafwân Radhiyallahu anhu tidak pernah mengucapkan kalimat apapun kepada Aisyah Radhiyallahu anhuma , selain ucapan Innalillah wa Inna Ilaihi Raji’un karena kaget saat mengetahui Aisyah Radhiyallahu anhuma tertinggal. Peristiwa ini dimanfaatkan oleh kaum munafik. Mereka membubuhi kisah ini dengan berbagai cerita bohong. Diantara yang sangat berantusias menyebarkan cerita bohong dan keji itu adalah Abdullah bin Ubay Ibnu Salul. Cerita bohong itu menyebar dengan cepat, dari mulut ke mulut, sehingga ada beberapa shahabat yang terfitnah dan tanpa disadari ikut andil dalam menyebarkan berita ini. Mereka adalah Misthah bin Utsâtsah sepupu Abu Bakr ash-Shiddiq Radhiyallahu anhu, Hassân bin Tsâbit dan Hamnah bintu Jahsy Radhiyallahu anhum. Rasûlullâh Shallallahu alaihi wa sallam sedih dengan berita yang tersebar, bukan karena meragukan kesetiaan istri beliau Shallallahu alaihi wa sallam. Beliau Shallallahu alaihi wa sallam percaya Aisyah Radhiyallahu anhuma dan Shafwân Radhiyallahu anhu tidak seperti yang digunjingkan. Berita yang sangat menyakiti hati Rasûlullâh Shallallahu alaihi wa sallam ini memantik kemarahan para shahabat dan hampir saja menyulut pertikaian diantara kaum Muslimin. Sebagai respon dari berita buruk ini, Sa’ad bin Mu’âdz Radhiyallahu anhu menyatakan kesiapannya untuk membunuh kaum Aus yang terlibat dalam penyebaran berita dusta ini, sementara Sa’ad bin Ubâdah Radhiyallahu anhu tidak setuju dengan sikap Sa’ad bin Mu’adz ini, karena diantara yang tertuduh terlibat dalam penyebaran berita ini berasal dari kaum Sa’ad bin Ubâdah Radhiyallahu anhu. Hampir saja kekacauan yang diinginkan kaum munafik menjadi nyata, namun dengan petunjuk dari Allâh Azza wa Jalla , Rasûlullâh Shallallahu alaihi wa sallam tampil menyelesaikan permasalahan ini dan berhasil meredam api kemarahan. Sehingga kaum munafik harus menelan pil pahit kegagalan untuk kesekian kalinya. AISYAH RADHIYALLAHU ANHUMA SAKIT Awalnya, Aisyah Radhiyallahu anhuma tidak tahu kalau banyak orang yang sedang menggunjing beliau Radhiyallahu anhuma. Beliau Radhiyallahu anhuma menyadari hal itu, ketika jatuh sakit dan meminta ijin kepada Rasûlullâh Shallallahu alaihi wa sallam untuk tinggal sementara waktu di rumah orang tua beliau yaitu Abu Bakar Radhiyalla anhu. Betapa sakit hati beliau Radhiyallahu anhuma mendengarnya. Sejak saat itu, beliau Radhiyallahu anhuma susah bahkan tidak bisa tidur. Beliau Radhiyallahu anhuma berharap dan memohon agar Allâh Azza wa Jalla memberitahukan kepada nabi-Nya melalui mimpi prihal permasalahan yang sedang dipergunjingkan halayak ramai. Beliau Radhiyallahu anhuma merasa tidak pantas menjadi penyebab turunnya wahyu. Oleh karenanya beliau Radhiyallahu anhuma berharap ada pemberitahuan lewat mimpi kepada nabi-Nya. PERINGATAN DARI ATAS LANGIT Sebulan penuh, Aisyah Radhiyallahu anhuma merasakan kepedihan dan juga Rasûlullâh Shallallahu alaihi wa sallam akibat ulah orang-orang munafik ini. Sampai akhirnya, Allâh Azza wa Jalla menurunkan sepuluh ayat al- Quran prihal berita dusta ini. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ ۚ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ ۖ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۚ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ الْإِثْمِ ۚ وَالَّذِي تَوَلَّىٰ كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ ﴿١١﴾ لَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ ظَنَّ الْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بِأَنْفُسِهِمْ خَيْرًا وَقَالُوا هَٰذَا إِفْكٌ مُبِينٌ ﴿١٢﴾ لَوْلَا جَاءُوا عَلَيْهِ بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ ۚ فَإِذْ لَمْ يَأْتُوا بِالشُّهَدَاءِ فَأُولَٰئِكَ عِنْدَ اللَّهِ هُمُ الْكَاذِبُونَ ﴿١٣﴾ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ لَمَسَّكُمْ فِي مَا أَفَضْتُمْ فِيهِ عَذَابٌ عَظِيمٌ ﴿١٤﴾ إِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُمْ مَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ ﴿١٥﴾ وَلَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ قُلْتُمْ مَا يَكُونُ لَنَا أَنْ نَتَكَلَّمَ بِهَٰذَا سُبْحَانَكَ هَٰذَا بُهْتَانٌ عَظِيمٌ ﴿١٦﴾ يَعِظُكُمُ اللَّهُ أَنْ تَعُودُوا لِمِثْلِهِ أَبَدًا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ ﴿١٧﴾ وَيُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ ۚ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ ﴿١٨﴾ إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۚ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ ﴿١٩﴾ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ وَأَنَّ اللَّهَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ 11. Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu, tiap-tiap orang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian terbesar dalam penyiaran berita bohong itu, maka baginya azab yang besar. 12. Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang Mukminin dan Mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan mengapa tidak mengatakan, “Ini adalah berita bohong yang nyata.” 13. Mengapa mereka yang menuduh itu tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu ? Karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi, maka mereka itu di sisi Allâh adalah orang- orang yang dusta. 14. Sekiranya tidak ada kurnia Allâh dan rahmat-Nya kepada kamu semua di dunia dan di akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, akibat pembicaraan kamu tentang berita bohong itu. 15. Ingatlah di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja, padahal dia di sisi Allâh adalah besar. 16. Dan Mengapa kamu diwaktu mendengar berita bohong itu tidak mengatakan, “Kita sama sekali tidak pantas untuk mengucapkan ini, Maha Suci Engkau Ya Rabb kami, ini adalah dusta yang besar.” 17. Allah memperingatkan kamu agar jangan kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman. 18. Dan Allâh menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu. Dan Allâh Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. 19. Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar berita perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. dan Allâh mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui. 20. Dan sekiranya bukan karena kurnia Allâh dan rahmat-Nya kepada kamu semua, dan Allâh Maha Penyantun dan Maha Penyayang, niscaya kamu akan ditimpa azab yang besar.[ an-Nûr/2411-20] Dengan turunnya ayat ini, maka permasalahan ini pun menjadi jelas. Rasûlullâh Shallallahu alaihi wa sallam dan Ummul Mukminin Aisyah Radhiyallahu anhuma merasa lega. Begitu juga yang dirasakan oleh kaum Muslimin, namun mereka merasa berang dengan orang-orang yang ikut andil dalam mencoreng nama baik ummul Mukminin. Abu Bakar as-shiddiq Radhiyallahu anhu tersulut emosinya ketika tahu bahwa Misthah bin Utsâtsah, sepupu beliau Radhiyallahu anhu yang selama ini dibantu ekonominya ternyata ikut andil dalam menyebarkan berita yang telah melukai hati Rasûlullâh Shallallahu alaihi wa sallam dan seluruh kaum Muslimin ini. Bahkan sampai beliau Radhiyallahu anhu bersumpah untuk tidak akan membantunya lagi. Lalu turunlah firman Allâh Azza wa Jalla وَلَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka tidak akan memberi bantuan kepada kaum kerabatnya, orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, dan hendaklah mereka mema’afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin Allâh mengampunimu? dan Allâh adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang [an-Nûr/24 22] Akhirnya Abu Bakar Radhiyallahu anhu membantu Misthah kembali karena mengharap ampunan dari Allâh Azza wa Jalla . Dalam ayat-ayat di atas, Allâh Azza wa Jalla mencela mereka yang terperangkap dalam jebakan orang-orang munafik dan memuji kaum Mukminin yang tidak termakan isu ini dan menyikapinya dengan bijak sembari menyakini kedustaan berita ini. Diantara yang tersanjung dengan ayat ini adalah Abu Ayyub al-Anshari Radhiyallahu anhu. Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan sebuah hadits yang memberitakan bahwa salah shahabat Rasûlullâh dari kaum Anshar saat mendengar berita ini, beliau Radhiyallahu anhu mengatakan Kita sama sekali tidak pantas untuk mengucapkan ini, Maha Suci Engkau Ya Rabb kami, ini adalah dusta yang besar [HR. Bukhari, al Fath, 28/110, no. 7370] Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan bahwa orang ini adalah Abu Ayyub Radhiyallahu anhu. Setelah perkara ini menjadi jelas, Rasûlullâh Shallallahu alaihi wa sallam kemudian menuntaskannya dengan memberikan sanksi kepada mereka yang terlibat. PELAJARAN DARI KISAH DI ATAS 1. Menyebarkan berita dusta merupakan salah satu metode kaum munafik dan musuh Islam untuk menyerang agama ini. Kisah di atas dan kisah sebelumnya pada edisi 10 menunjukkan hal ini. Maka hendaknya kaum Muslimin mengambil pelajaran dari kisah ini ! Terutama saat mendengar berita-berita yang mencederai nama kaum Muslimin dan menyikapinya dengan bijak. 2. Peristiwa ini menunjukkan kenabian beliau Shallallahu alaihi wa sallam yang menerima wahyu dari Allâh Azza wa Jalla . Seandainya al-Qur’an itu buatan Rasûlullâh Shallallahu alaihi wa sallam sebagaimana tuduhan orang-orang kafir, tentu Rasûlullâh Shallallahu alaihi wa sallam tidak akan membiarkan berita ini berlarut-larut. Namun fakta menunjukkan bahwa beliau Shallallahu alaihi wa sallam menunggu wahyu dari Allâh Azza wa Jalla 3. Kisah di atas juga menunjukkan syari’at penegakan had qadzf sanksi karena menuduh kepada orang yang terbukti telah menuduhkan perbuatan keji kepada kaum Muslimin yang menjaga kehormatan mereka [Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XIV/1431H/2010]._______Sumber Diangkat dari as-Siratun Nabawiyah Fi Dhau’il Mashâdiril Ashliyah, Doktor Mahdi Rizqullah Ahmad. Artikel Ikuti Kajian materi ini Berikut ini merupakan rekaman kajian kitab “Ahsanul Bayan min Mawaqifi Ahlil Iman” karya Syaikh Abu Islam Shalih bin Thaha Abdul Wahid hafidzahullah, yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. yang membahas tentang nasihat-nasihat serta ibroh dari kisah-kisah yang disebutkan di dalam Al-Quran dan Hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Kajian ini di sampaikan di Masjid Al-Barkah, komplek Studio Radio Rodja dan RodjaTV, pada Senin malam, 10 Jumadal Ula 1438 Pada kajian kali ini Ustadz Kurnaedi akan menyampaikan pembahasan tentang “Kisah tentang Berita Bohong yang Menimpa Aisyah radhiyallahu anha Haditsatul Ifki“. Semoga bermanfaat. {audio autostartyes}Berita Bohong yang Menimpa Aisyah
Salah satu istri Nabi yang mesti kita tahu keutamaan dan keistimewaannya adalah Aisyah. Aisyah adalah puteri dari sahabat yang mulia, Abu Bakar Ash-Shiddiq. Nama kunyah Aisyah adalah Ummu Abdillah. Ia dinikahi oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam ketika berusia 6 tahun, pernikahannya berlangsung pada dua tahun sebelum hijrah. Nabi shallallahu alaihi wa sallam baru menggauli Aisyah ketika usianya 9 tahun sebagaimana Aisyah menyebutnya sendiri, disebutkan hal ini dalam riwayat yang muttafaqun alaih Bukhari-Muslim. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam meninggal dunia ketika Aisyah berusia 18 tahun. Aisyah sendiri meninggal dunia di Madinah dan dikuburkan di pekuburan Baqi’. Aisyah mewasiatkan pada Abu Hurairah untuk menyolatkannya. Aisyah meninggal dunia pada tahun 58 H. Lihat Jala’ Al-Afham, hlm. 297; 300. Keutamaan Aisyah Pertama Aisyah adalah istri yang paling dicintai oleh Rasulullah shallalahu alaihi wa sallam. Dari Amr bin Al-Ash radhiyallahu anhu, ia pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, أَىُّ النَّاسِ أَحَبُّ إِلَيْكَ قَالَ عَائِشَةُ » . فَقُلْتُ مِنَ الرِّجَالِ فَقَالَ أَبُوهَا » “Siapa orang yang paling engkau cintai?” Beliau menjawab, “Aisyah”. Ditanya lagi, “Kalau dari laki-laki?” Beliau menjawab, “Ayahnya yaitu Abu Bakar Ash-Shiddiq.” HR. Bukhari, no. 3662 dan Muslim, no. 2384 Kedua Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak menikahi seorang perawan kecuali Aisyah. Ketiga Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah menerima wahyu ketika sedang berada di dalam selimut Aisyah dan hal itu tidak pernah terjadi pada istri beliau yang lain. Keempat Tatkala istri-istri Nabi shallallahu alaihi wa sallam diberi pilihan untuk tetap bersama Nabi shallallahu alaihi wa sallam dengan kehidupan apa adanya atau diceraikan lalu akan mendapatkan gantian dunia, maka Aisyah adalah orang pertama yang menyatakan tetap ingin bersama Nabi shallallahu alaihi wa sallam bagaimana pun kondisi beliau. Itulah yang disebutkan dalam ayat, يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ إِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا فَتَعَالَيْنَ أُمَتِّعْكُنَّ وَأُسَرِّحْكُنَّ سَرَاحًا جَمِيلًا 28 وَإِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالدَّارَ الْآَخِرَةَ فَإِنَّ اللَّهَ أَعَدَّ لِلْمُحْسِنَاتِ مِنْكُنَّ أَجْرًا عَظِيمًا 29 “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu “Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut’ah suatu pemberian yang diberikan kepada perempuan yang telah diceraikan menurut kesanggupan suami, pen. dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kamu sekalian menghendaki keredhaan Allah dan Rasulnya-Nya serta kesenangan di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik diantaramu pahala yang besar.” QS. Al-Ahzab 28-29 Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ketika itu mengatakan, “Aku benar-benar ingatkan padamu. Janganlah engkau terburu-buru sampai engkau meminta izin kepada orang tuamu.” Aisyah berkata, “Tentu kedua orang tuaku tidak menginginkanku cerai.” Aisyah berkata pula, فَفِى أَىِّ هَذَا أَسْتَأْمِرُ أَبَوَىَّ فَإِنِّى أُرِيدُ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالدَّارَ الآخِرَةَ “Apakah dalam masalah ini saya harus meminta izin orang tua, karena saya menginginkan Allah, Rasul-Nya dan negeri akhirat?” Akhirnya, Aisyah menjadi contoh bagi istri-istrinya yang lain, mereka akhirnya berkata sebagaimana Aisyah.” HR. Bukhari, no. 4786 dan Muslim, no. 1475 Kelima Di antara keistimewaannya adalah bahwa Allah membebaskannya dari tuduhan bohong haditsul ifki, seperti disebutkan dalam surah An-Nuur ayat 11-20, pen., dengan menurunkan ayat akan kesuciannya. Ayat tersebut dibaca oleh para imam dalam shalat mereka sampai hari kiamat. Aisyah temasuk orang baik, dijanjikan ampunan dan rezeki yang baik. Allah juga menjelaskan bahwa berita bohong yang menimpanya adalah baik baginya dan bukan merendahkannya. Bahkan Allah mengangkat derajatnya pada derajat yang tinggi, bahkan terus disebutkan akan kebaikan dan terbebasnya dari tuduhan keji kepadanya oleh penduduk bumi dan langit. Alangkah indahnya sanjungan pada Aisyah tersebut. Awal Kisah Aisyah Dituduh Selingkuh Faedah Surat An-Nuur 05 Awal Kisah Aisyah Dituduh Selingkuh Lanjutan Kisah Aisyah Dituduh Selingkuh Faedah Surat An-Nuur 06 Lanjutan Kisah Aisyah Dituduh Selingkuh Berakhir Kisah Aisyah Dituduh Selingkuh Faedah Surat An-Nuur 07 Berakhir Kisah Aisyah Dituduh Selingkuh Keenam Banyak dari kalangan pembesar sahabat radhiyallahu anhum jika menghadapi kesulitan dalam masalah agama, mereka meminta fatwa kepada Aisyah. Mereka mendapati ilmu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berada pada Aisyah radhiyallahu anha. Ketujuh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam meninggal dunia di rumahnya, pada giliran harinya, pada malam harinya dan di pangkuannya, lalu dikuburkan di rumahnya. Kedelapan Pernikahan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dengan Aisyah bukan sembarang pernikahan. Akan tetapi perintah dari Allah Ta’ala. Sebagaimana hal tersebut dikisahkan oleh Aisyah radhiyallahu anha, di mana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Engkau ditampakkan padaku dalam mimpi selama tiga malam dalam riwayat Bukhari disebut dua kali, pen.. Ada malaikat datang membawamu dengan mengenakan pakaian sutra putih, lalu malaikat itu berkata, Ini adalah istrimu.’ Maka aku menyingkap wajahmu dan ternyata engkau, lalu kukatakan, إِنْ يَكُ هَذَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ يُمْضِهِ Seandainya mimpi ini datangnya dari Allah, pasti Dia akan menjalankannya.’” HR. Bukhari, no. 3895 dan Muslim, no. 2438 Kesembilan Banyak orang yang memberi hadiah pada giliran harinya Aisyah yang di sana ada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam agar supaya menjadi dekat dengan beliau shallallahu alaihi wa sallam. Disebutkan dalam hadits, “Para sahabat dahulu menyengaja memberikan hadiah-hadiah mereka kepada Nabi ketika giliran Aisyah. Kata Aisyah, Berkumpullah istri-istri yang lain di tempat Ummu Salamah.’ Lalu mereka berkata, Wahai Ummu Salamah, demi Allah orang-orang menyengaja memberikan hadiah-hadiah mereka pada giliran Aisyah dan bahwasanya kami pun menghendaki kebaikan sebagaimana Aisyah menghendakinya, maka mintalah kepada Rasulullah agar memerintahkan orang-orang untuk memberikan hadiah mereka kepada beliau di manapun giliran beliau.’ Kata Aisyah, Ummu Salamah menyebutkan hal itu kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Kata Ummu Salamah beliau berpaling dariku, ketika beliau kembali pada giliranku, aku sebutkan lagi hal itu, maka beliau berpaling dariku, ketika aku menyebutkan hal itu ketiga kalinya.’ Nabi shallallahu alaihi wa sallam lantas berkata, يَا أُمَّ سَلَمَةَ لاَ تُؤْذِينِى فِى عَائِشَةَ ، فَإِنَّهُ وَاللَّهِ مَا نَزَلَ عَلَىَّ الْوَحْىُ وَأَنَا فِى لِحَافِ امْرَأَةٍ مِنْكُنَّ غَيْرِهَا Wahai Ummu Salamah, jangan engkau menyakiti aku lantaran Aisyah karena sesungguhnya–demi Allah–tidak pernah turun kepadaku wahyu sedang aku berada di selimut seorang istriku di antara kamu, kecuali dia Aisyah.” HR. Bukhari, no. 3775 Kesepuluh Syariat tayamum turun lantaran Aisyah. Aisyah pernah meminjam sebuah kalung dari Asma’ lalu kalung itu hilang. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam lantas mengutus seseorang mencarinya lalu ditemukanlah kalung tersebut. Kemudian masuk waktu shalat sementara tidak ada air bersama mereka lalu mereka pun shalat, kemudian mereka mengadukan hal tersebut kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, maka Allah pun menurunkan ayat tentang tayammum, maka Usaid bin Hudhair berkata kepada Aisyah, جَزَاكِ اللَّهُ خَيْرًا ، فَوَاللَّهِ مَا نَزَلَ بِكِ أَمْرٌ تَكْرَهِينَهُ إِلاَّ جَعَلَ اللَّهُ ذَلِكِ لَكِ وَلِلْمُسْلِمِينَ فِيهِ خَيْرًا “Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan. Demi Allah, tidaklah menimpamu sesuatu yang engkau benci melainkan Allah menjadikan padanya kebaikan bagimu dan bagi kaum muslimin.” HR. Bukhari, no. 336 dan Muslim, no. 367 Semoga keutamaan Aisyah menjadi teladan bagi kita semua. Wallahu waliyyut taufiq. Referensi Jala’ Al-Afham fi Fadhl Ash-Shalah wa As-Salaam ala Muhammad Khair Al-Anam. Cetakan kedua, Tahun 1431 H. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Hlm. 297-300. — Disusun di Pesantren Darush Sholihin, Jumat pagi , 21 Shafar 1439 H Oleh Muhammad Abduh Tuasikal Artikel
السلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين Halaqah yang ke enam belas dari Silsilah Ilmiyyah Sirah Nabawiyah Adalah ”Faedah-Faedah Dari Hadits Aisyah Radhiyallāhu ’Anhā”. Diantara Faedah yang bisa kita ambil dari Hadīts Aisyah Radhiallahu Anha ❶ Pentingnya seorang muslim memiliki waktu berkholwah dengan Allāh ﷻ. Berkata Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah rahimahulla di dalam Majmu Fatawa لابد للعبد من أوقات ينفرد بها بنفسه في دعائه وذكره وصلاته وتفكره ومحاسبة نفسه وإصلاح قلبه… Haruslah seorang hamba memiliki waktu-waktu yang disitu dia menyendiri dengan dirinya didalam doa nya, dzikirnya, sholatnya, perenungannya, musahabah terhadap dirinya & memperbaiki hatinya. ❷ Hadīts diatas diatas menjelaskan bahwa surat al-Alaq ayat 1-5 adalah yang pertama turun kepada Nabi ﷺ & ini adalah pendapat jumhur ulama. ❸ Hadīts ini menunjukkan bahwasanya sebelum menjadi Nabi, beliau ﷺ sudah memiliki sifat² yang sangat mulia. ❹ Akhlak yang baik adalah sebab seorang selamat dari berbagai keburukan. ❺ Hadīts ini menunjukkan keutamaan Khadijah ketika beliau radiallahu anha berusaha menenangkan Nabi ﷺ dari ketakutan dengan cara menyebutkan kebaikan² & keutamaan² beliau, yg ini semua adalah sebab Allāh tidak akan menyia-nyiakan beliau ﷺ. ❻ Usaha Khadijah sebagai seorang istri untuk mengetahui hakikat dari kejadian yang menimpa Nabi ﷺ dengan mendatangi seorang yang berilmu yaitu Waroqoh supaya Nabi ﷺ semakin tenang menghadapi semua ini. ❼ Kedudukan ilmu Waroqoh bin Naufal tentang para Nabi sebelum Nabi Muhammad ﷺ. ❽ Bahwa dakwah memiliki tantangan & rintangan, sebagaimana dikabarkan oleh Waroqoh bin Naufal. ❾ Bahwa Khadijah adalah orang yang pertama kali beriman kepada Rasulullãh ﷺ dari kalangan wanita. Itulah yang bisa kita sampaikan pada Halaqah kali ini & sampai bertemu kembali pada Halaqah selanjutnya. والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته Abdullāh RoyDi kota Pandeglang Seorang IT Profesional yang berpengalaman di bidang Troubleshooting, Networking dan Database Management.
Allah SWT telah memilih Aisyah radhiyallahu anha untuk kekasih-Nya Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Perempuan suci lagi mensucikan, al-shiddiqah binti al-Shiddiq, perempuan yang derajat keagungannya memenuhi tujuh lapis langit, pendidik para ulama, pengajar akhlaq, pendakwah yang memiliki lisan fasih, juru bicara para fuqaha, sejak kecil dan tumbuh kembang sebagai pemeluk agama Islam. Ia pernah berkataلم أعقلْ أبويَّ إلاَّ وهما يَدينان الدِّين“Sebelum aku tumbuh sebagai orang yang beraqal, kedua orang tuaku sudah memeluk Islam.”Dialah satu-satunya istri Baginda Nabi shallallahu alaihi wasallam yang dinikahi masih dalam kondisi masih perawan, sebab belum pernah menikah sebelumnya. Kecintaannya pada Baginda shallallahu alaihi wasallam, digambarkan dalam banyak kitab manaqib sebagai yang tiada tertandingi. Nabi shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda, menggambarkan keutamaan Aisyah dibandingkan dengan semua perempuan dari kalangan Ummat Muhammad shallallahu alaihi wasallam tersebut diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahu anha, sebagai berikutفضْلُ عائشةَ على النِّساء كفَضلِ الثَّريد على سائر الطَّعام“Keutamaan Aisyah dibanding perempuan-perempuan selainnya adalah bagaikan keutamaan al-tsarid mengalahkan jenis makanan lainnya.” HR. Bukhari dan MuslimMaksud dari hadis ini, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Nawawi rahimahullah adalah sebagai berikutقال العلماء معناه أن الثريد من كلّ الطعام أفضل من المرق, فثريد اللحم أفضل من مرقه بلا ثريد, وثريد ما لا لحم فيه أفضل من مرقه, والمراد بالفضيلة نفعه, والشبع منه, وسهولة مساغه, والالتذاذ به, وتيسر تناوله, وتمكن الإنسان من أخذ كفايته منه بسرعة, وغير ذلك, فهو أفضل من المرق كله ومن سائر الأطعمة، وفضل عائشة على النساء زائد كزيادة فضل الثريد على غيره من الأطعمة. وليس في هذا تصريح بتفضيلها على مريم وآسية; لاحتمال أن المراد تفضيلها على نساء هذه الأمة“Para ulama berkata, makna hadis ini adalah bahwasanya al-tsarid bubur merupakan makanan yang paling utama di antara berbagai jenis makanan lainnya dari kelompok al-muraq makanan lembut/kuah/kaldu. Bubur daging adalah lebih utama dibanding kaldu tanpa bubur. Bubur makanan yang tidak ada daging yang menggumpal di dalamnya adalah paling utama-utamanya muraq. Maksud dari utama ini adalah segi manfaatnya, mengenyangkan, dan mudah dicerna, serta kelezatan. Mudah dikonsumsi, dan memungkinkan semua orang bisa mengkonsumsinya dengan cepat. Itulah sebabnya, al-tsarid merupakan paling utama-utamanya muraq khususnya bila dibandingkan semua jenis makanan lainnya. Dan keutamaan Aisyah di antara perempuan lainnya adalah lebih banyak bagaikan kelebihan al-tsarid dari semua makanan ini tidak ada hubungannya dengan penjelasan keutamaan Maryam dan Aisyah, karena sifat khusus kandungan darihadis adalah mencakup semua perempuan dari ummat Muhammad ini.” Syarah Muslim, Juz 15, halaman 99.Penggambaran Nabi shallallahu alaihi wasallam tentang keutamaan Aisyah radliyallahu anha ini seolah mengesankan adanya sifat multitalenta yang dimiliki oleh Aisyah. Itulah sebabnya, beliau digambarkan sebagai al-tsarid, semacam bubur sederhana yang siapapun bisa mengolahnya dan mengakui ini bukan merupakan yang irrasional, tapi justru sangat rasional. Pertama, dari sisi usia beliau yang masih sangat belia ketika dinikahi oleh Baginda Nabi shallallahu alaihi wasallam. Dari faktor usia yang masih belia ini, maka sangat rasional bila daya hafalannya sangat kuat. Bahkan kemampuan pemahaman, penalaran dan komunikasi dalam menyampaikan gagasan. Itulah sebabnya, Aisyah radhiyallahu anha dijuluki oleh para ulama sebagai muhadditsatu al-fuqaha, yaitu juru bicaranya para ini kiranya tidak berlebihan, sebab beliau adalah istri Baginda shallallahu alaihi wasallam, yang sudah pasti mengetahui banyak seluk beluk soal fi’li perbuatan Nabi ketika ada di rumah. Mayoritas hadis-hadis yang diriwayatkan olehnya, adalah sunnah fi’liyah, misalnya hadis tentang tata cara berwudhu, shalat, haji dan lain sebagainya. Tak urung, ada sekitar yang diriwayatkan oleh antara 7 sahabat yang meriwayatkan banyakhadis, Siti Aisyah radhiyallahu anha, menduduki urutan nomor 4 setelah Abu Hurairah, Abdullah bin Umar, dan Anas bin Malik. Tiga sahabat lain yang banyak meriwayatkan hadis, akan tetapi masih di bawah Aisyah adalah Abdullah bin Abbas, Jabir bin Abdillah, dan Abu Sa’id dari sisi periwayatanhadis, Siti Aisyah merupakan sejajar dengan para perawi hadis di kalangan sahabat-sahabat terkemuka lainnya. Yang paling menonjol dari sisi keunggulan hadis Aisyah ini adalah keberadaan hadis-hadits infirad bi al-riwayah hadis dengan sanad tunggal dan tidak diriwayatkan sahabat lainnya, karena berkaitan dengan hal-hal yang ada dalam rumah tangga. Jadi, andaikan Siti Aisyah radhiyallahu anha tidak meriwayatkan hadis ini, maka hilanglah sebagian dari riwayat hadis penting dalam khazanah keilmuan Islam dan tidak sampai ke generasi dalam meriwayat hadis, Siti Aisyah radhiyallahu anha sangat ketat dalam memegang redaksi hadis. Ia menolak segala bentuk periwayatan bi al-ma’na. Suatu ketika dikisahkan, ada sahabat Urwah bin Wutsqa datang mengisahkan kepada Aisyah bahwasanya Ibnu Amr bin Ash telah menyampaikan sebuah hadisقال رسول الله صلى الله عليه وسلم إِنَّ الله لا يَقْبِضُ العِلْمَ انْتِزَاعَاً يَنْتَزِعُهُ من العِبادِ ولَكِنْ يَقْبِضُ العِلْمَ بِقَبْضِ العُلَمَاءِ حتَّى إذا لَمْ يُبْقِ عَالِمٌ اتَّخَذَ الناس رؤسَاً جُهَّالاً ، فَسُئِلوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا-البخاري“Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak menggengam ilmu dengan sekali pencabutan, mencabutnya dari para hamba-Nya. Namun Dia menggengam ilmu dengan mewafatkan para ulama. Sehingga, jika tidak disisakan seorang ulama, manusia merujuk kepada orang-orang bodoh. Mereka bertanya, maka mereka orang-orang bodoh itu berfatwa tanpa ilmu. Maka mereka tersesat dan menyesatkan.” HR Al BukhariAwalnya Siti Aisyah radhiyallahu anha menolak hadis ini. Sampai akhirnya ketika Ibn Amr bin Ash datang ke Madinah, diperintahkanlah olehnya Urwah bin Zubair ini untuk menghadapnya dan bertanya sekali lagi perihal hadis tersebut. Selanjutnya, setelah Urwah menghadap Ibn Amr, lalu kembali ke Aisyah radhiyallahu anha, ia menyampaikan bahwa Ibn Amr bin Ash telah meriwayatkanhadis itu dengan redaksi yang sama. Dari sinilah kemudian, Siti Aisyah baru menyatakan, bahwa menurutnya Ibnu Amr itu benar sebab ia meriwayatkan hadis itu dengan tidak menambah atau mengurangi redaksinya. Artinya, riwayat itu bi al-lafdhi dan tidak sekedar bi al-ma’na. Abdu al-Hamid Mahmud, al-Sayyidah Aisyah Ummu al-Mu’minin wa Alimatu al-Nisa’ al-Islam, Damaskus Dar al-Qalam, 1994, halaman 187.Inilah bagian dari peran penting Aisyah radhiyallahu anha dalam sejarah periwayatan hadis. Maka tidak heran, bila ia dijuluki sebagai muhaditsatu al-fuqaha’, mu’allimatu al-ulama pengajar para ulama, dan berbagai gelar lainnya yang disematkan padanya. Bahkan para sahabat perawi hadis lainnya juga turut mengaji kepadanya, seperti halnya Sahabat Abu Hurairah dan Anas bin Malik radliyallahu anhum ajma’in.
Pada postingan ini, kami menyediakan kunci jawaban soal evaluasi PAI kelas 12 halaman 98 99 100 101 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti bab 5 semester 1 buku pelajaran siswa kurikulum 2013 revisi terbaru. Jawaban ini dapat teman-teman manfaatkan sebagai alternatif, untuk menjawab soal-soal yang ada pada tugas bisa dipungkiri, jika dalam mengerjakan tugas-tugas sekolah, tak jarang siswa mendapati soal-soal yang sulit, yang terkadang jawabannya tidak ada di buku pelajaran. Ada juga soal yang hrus dijawab dengan pemahaman sendiri. Maka wajar jika ada siswa yang belum bisa menjawab soal-soalnya sehingga tugas sekolah belum bisa Jawaban PAI Kelas 12 Halaman 98 99Kami menyadari jika akhir-akhir ini cukup banyak siswa mencari dan memanfaatkan alternatif jawaban sepert ini. Sudah pasti tujuannya adalah untuk menjawab soal-soal pada tugas sekolah yang mungkin belum bisa dijawab sendiri. Dengan adanya alternatif jawaban, siswa tidak akan kesulitan lagi dalam mengerjakan tugas sekolah. Daftar Isi Kunci Jawaban PAI Kelas 12 Halaman 98-101 Kunci Jawaban PAI Kelas 12 Halaman 98 99 Pilihan Ganda Kunci Jawaban PAI Kelas 12 Halaman 99 100 101 Isian Download Soal PAI Kelas 12 Halaman 98-101 Kami menyadari hal tersebut dan memutuskan untuk turut serta dalam menyediakan kunci jawaban evaluasi PAI kelas 12 halaman 98 99 100 101 ini. Kami berharap jawaban yang kami sediakan ini juga dapat membantu teman-teman siswa dalam mengerjakan tugas-tugas teman-teman sebelumnya pernah berkunjung ke blog ini, tentu tahu bahwa sebelum inipun kami sudah cukup banyak menyediakan kunci jawaban. Bukan hanya jawaban untuk soal-soal PAI saja, namun kami juga menyediakan jawaban untuk tugas-tugas lainnya. Teman-teman dapat mencari dan meskipun kami disini sudah menyediakan jawaban, yang nantinya akan mempermudah teman-teman dalam mengerjakan tugas-tugas sekolah, kami tetap menyarankan agar para siswa tetap berusaha dulu mencari jawaban di buku pelajaran sebelum memanfaatkan jawaban Jawaban PAI Kelas 12 Halaman 98 Sampai 101Mengerjakan tugas sekolah memang terkadang ada malasnya. Namun bagitu, sudah menjadi kewajiban teman-teman untuk mengerjakan dan menyelesaikannya. Karena dengan mengerjakan tugas-tugas sekolah, teman-teman telah melaksanakan kewajiban sebagai seorang teman-temanpun tentu tahu jika nilai yang nantinya didapatkan dari tugas-tugas sekolah akan sangat membantu dalam meningkatkan atau memperbaiki nilai akhir di raport semester. Dalam menentukan nilai akhir raport, seorang guru akan menghitung keseluruhan nilai, termasuk nilai dari tugas-tugas selain nilai dari tugas-tugas sekolah, teman-teman juga harus bisa mendapatkan nilai terbaik dari kegiatan lainnya. Kegiatan yang kami maksud tersebut adalah penilaian, baik penilaian harian, penilaian akhir semester ataupun penilaian akhir tahun. Semua nilai tersebut sangat penting sekali bagi teman-teman dalam menentukan kelulusan Juga Broker Forex TerbaikMaka dari itu persiapan diri dengan memperbanyak belajar di rumah. Dan manfaatkan juga kunci jawaban yang kami sediakan ini sebagai bahan belajar teman-teman. Karena mempelajari soal-soal latihan juga sangat efektif sekali dalam membantu memahami materi pada buku Jawaban PAI Kelas 12 Halaman 98 99 Pilihan GandaEvaluasiI. Berilah tanda silang x pada huruf a, b, c, d, atau e yang dianggap sebagai jawaban yang paling tepat!1. Perhatikan penggalan ayat berikut!Penggalan ayat di atas mengandung hukum bacaan mad . . .a. Tabi’ib. Iwadc. Silah Qasirahd. Arid lisutkane. IzharJawab A2. Perhatikan potongan ayat berikut!Potongan ayat di atas mengandung informasi bahwa . . . .a. Syirik adalah Syirik adalah menyekutukan Allah Kezaliman dan kemusyrikan itu Menyekutukan Allah Swt. adalah dosa Kemusyrikan adalah kezaliman yang E3. Dalam surat Luqman ayat 14, Allah Swt. menginformasikan bahwa ibu menyapih anaknya pada usia . . . .a. Satu tahunb. Dua tahunc. Tiga tahund. Empat tahune. Lima tahunJawab B4. Berdasarkan informasi dari Aisyah radiAllahu anha dalam hadis di atas, Rasulullah saw. sangat rajin beribadah karena beliau ingin menjadi …a. Hamba yang masuk surgab. Hamba terkasihc. Hamba yang diampuni dosanyad. Hamba yang bersyukure. Hamba pemberi syafaat bagi umatnyaJawab D5. Berikut ini yang bukan kandungan dari hadis Aisyah radiAllahu anha hadis no. 4460 di atas ialah …a. Rasulullah saw. sangat rajin beribadahb. Rasulullah saw. adalah orang yang suka bersyukurc. Dosa-dosa Rasulullah saw. telah diampuni oleh Allah Rasulullah saw. adalah pemberi syafaat bagi umatnyae. Rasulullah saw. jika shalat malam terkadang sampai tumitnya bengkakJawab DKunci Jawaban PAI Kelas 12 Halaman 99 100 101 Isian1. Jelaskan isi kandungan Luqman/3113!Surat Luqman ayat 13. Isi kandungan surah ini adalah pentingnya kita memahami bahwa perbuatan syirik atau mempersekutukan Allah SWT merupakan bentuk kezaliman dan dosa yang paling besar, hina, dan tidak Jelaskan jasa-jasa ibu yang termuat dalam Luqman/3114!Isi kandungan dari surah Luqman ayat 14 ini adalah Allah memerintahkan kepada setiap manusia untuk berbakti kepada kedua orang yaitu ibu dan yang telah mengandung dengan susah payah dan bertambah-tambah, maksudnya adalah ibu telah lemah karena mengandung, lemah saat mengeluarkan bayinya, dan lemah saat mengurus anaknya sewaktu bayi. Serta menyusui anak bayinya selama dua untuk hendaknya bersyukur kepada Allah yang telah memberikan kehidupan melalui kedua orang tuanya, dan perintah untuk bersyukur atas kedua orang jasa-jasa Ibu dalam Surah Luqman ini adalah Ibulah yang bersusah payah mendangung yang bersusah payah melahirkan Ibulah yang bersusah payah menyapih atau menyusui anaknya selama dua Rasulullah saw. menyuruh agar kita berbicara sesuai dengan kadar intelektual lawan bicara kita, jelaskan maksudnya!Maksud Rasulullah menyuruh agar kita berbicara sesuai dengan kadar intelektual lawan bicara kita adalah agar pesan atau dakwah yang akan kita sampaikan dapat masuk kedalam pikiran dan hati lawan bicara kita. Dengan kata lain yaitu agar mudah dipahami dan tidak terjadi salah Jelaskan pentingnya penguasa yang adil bagi tegaknya amar ma’ruf nahi munkar!Secara bahasa amar ma'ruf nahi munkar adalah menyeru kepada kebikan dan mencegah kemungkaran. Sedangan korelasinya dengan seorang pemimpin adalah, jika seorang pemimpin bersifat adil kepada rakyatnya, maka akan kecil kemungkinan untuk rakyatnya dalam mencemooh dan mengkritik pemimpinnya, dengan demikian jika sang pemimpin menerapkan sistem yang bertujuan untuk amar ma'ruf tadi, dengan sendirinya rakyatnya mentaati peraturan itu, karna sudah ada suri tauladan yang memberikan contoh yang benar, dan memiliki image yang bagus, dan dapat di Jelaskan kaitan antara ibadah dan bersyukur berdasarkan hadits dari Aisyah di atas! Kaitan antara ibadah dan bersyukur berdasarkan hadits dari Aisyah adalah salah satu cara untuk menjukkan perasaan syukur kita kepada Allah Ta’ala adalah dengan semakin memperbanyak ibadah kepada Allah, sebagaiman dalam riwayat sayyidatina Aisyah Radhiyallahu anha, Rasulullah bersyukur kepada Allah dengan sshalat hingga kaki beliau Berilah tanda checklist ✔ pada kolom di bawah ini sesuai kemampuanmu dalam membaca dan menghafal ayat dan hadis berikut dengan tartil!Untuk tugas bagian III ini, silahkan teman-teman isi pilihan pada kolom sesuai dengan kemampuan teman-teman sekarang Salinlah lafal-lafal yang mengandung hukum tajwid pada Luqman/3113-14 ke dalam tabel berikut dan jelaskan hukum bacaannya!Surah Luqman ayat 13Hukum tajwid pada ayat tersebut adalah sebagai berikut Pada Ù‚َالَ terdapat hukum tajwid mad asli fathah bertemu dengan huruf alifPada Ù„ُÙ‚ْÙ…َانُ terdapat dua hukum tajwid yaitu qalqalah sughra huruf qaf berharkat sukun di tengah kalimat dan mad asliPada Ù„ِابْÙ†ِÙ‡ِ terdapat hukum tajwid qalqalah sughraPada ÙŠَا بُÙ†َÙŠَّ terdapat hukum tajwid mad asliPada Ù„َا terdapat hukum tajwid mad asliPada تُØ´ْرِÙƒْ terdapat hukum tajwid ra tarqiq ra berharkat kasrahPada بِاللَّÙ‡ِ terdapat hukum tajwid lam jalalah tarqiq lam jalalah sebelumnya huruf berharkat kasrahPada Ø¥ِÙ†َّ terdapat hukum tajwid ghunnah nun bertsydidPada الشِّرْÙƒَ terdapat dua hukum tajwid yaitu alif lam syamsyiah alif man bertemu dengan huruf syamsyiah dan ra tarqiqPada Ù„َظُÙ„ْÙ…ٌ عَظِيمٌ terdapat dua hukum tajwid yaitu idzhar syafawi mim mati bertemu dengan huruf 'ain dan mad 'aridlisukun mad asli bertemu dengan huruf hijaiyyah di akhir kalimatSurah Luqman ayat 14Hukum tajwid pada ayat tersebut adalah sebagai berikut Pada ÙˆَصَّÙŠْÙ†َا terdapat dua hukum tajwid yaitu mad layyin dan mad asliPada الْØ¥ِÙ†ْسَانَ terdapat dua hukum tajwid yaitu alif lam qamariyyah dan mad asliPada بِÙˆَالِدَÙŠْÙ‡ِ terdapat dua hukum tajwid yaitu mad layyin dan mad asliPada Ø£ُÙ…ُّÙ‡ُ terdapat hukum tajwid ghunnahPada ÙˆَÙ‡ْÙ†ًاعَÙ„َÙ‰ٰ terdapat dua hukum tajwid yaitu idzhar halqi dan mad asliPada ÙˆَÙ‡ْÙ†ٍ ÙˆَÙِصَالُÙ‡ُ terdapat dua hukum tajwid yaitu idgham bi ghunnah dan mad asliPada ÙِÙŠ terdapat hukum tajwid mad asliPada عَامَÙŠْÙ†ِ terdapat dua hukum tajwid yaitu mad asli dan mad layyinPada اشْÙƒُرْ terdapat hukum tajwid ra tafhimPada Ù„ِÙŠ terdapat hukum tajwid mad asliPada ÙˆَÙ„ِÙˆَالِدَÙŠْÙƒَ terdapat hukum tajwid yaitu mad asli dan mad layyinPada الْÙ…َصِيرُ terdapat hukum tajwid yaitu alif lam qamariyyah dan mad 'aridlisukunV. Berilah tanda checklist ✔ pada kolom yang sesuai dengan pilihan sikap kalian!Pernyataan Tauhid harus didahulukan dalam dakwah karena Allah Swt. adalah Pencipta alam semesta. = SSKemusyrikan termasuk dosa besar karena kemusyrikan mengandung kezaliman terhadap sesama manusia. = SSMengajak manusia berbuat baik itu cukup dengan lisan yang fasih dan pandai ber-retorika. = SMenasihati orang berdakwah sebenarnya tidak perlu menggunakan metode yang macam-macam, yang penting punya keberanian untuk menyampaikan. = SKebenaran harus disampaikan apa adanya, karena perintah Rasulullah saw. agar kita menyampaikannya meskipun itu pahit. = SSSaling menyayangi dan saling menghormati berlaku dalam segala urusan = KSDalam berdakwah tidak boleh ada yang ditutup-tutupi disembunyikan,semua kebenaran harus disampaikan, walaupun mungkin akan berdampak buruk bagi yang menyampaikan. = SSKetika kalian bertukar argumen dengan orang yang kalian nasihati, kemudian tidak terjadi titik temu maka hargai pendapat mereka. = SApa yang kalian katakan seharusnya sama dengan apa yang kalian lakukan. Dengan keteladanan, kalian berharap orang yang kalian nasihati akan mau mengikuti dengan suka rela. = SSSetiap orang memiliki kewajiban untuk saling nasihat menasihati dalam kebaikan dan kesabaran dan mencegah perbuatan kemaksiatan serta kemungkaran. = SSDownload Soal dan Kunci Jawaban PAI Kelas 12 Halaman 98-101Belajar tak melulu dengan membaca materi yang ada pada buku pelajaran. Namun teman-teman juga dapat memanfaatkan soal-soal latihan seperti diatas. Nah berikut ini kami sudah menyediakan soal-soal diatas lengkap dengan kunci jawabannya dalam format file PDF yang nantinya bisa teman-teman simpan pada ponsel atau bisa teman-teman cetak. Berikut ini silahkan teman-teman unduh filenya. 175kb Mengerjakan tugas sekolah memang menjadi kegiatan rutin dalam proses belajar mengajar. Apalagi kita semua tahu, sampai sekarang ini kegiatan belajar tatap muka belum juga dilaksanakan secara penuh. Dan mau tidak mau sekolah masih menerapkan kegiatan belajar dari rumah atau begitu, sudah pasti siswapun akan lebih banyak diberikan tugas-tugas sekolah oleh guru untuk nantinya dikerjakan di rumah dan dikumpulkan kembali kepada guru. Memang dalam masa pembelajaran seperti saat ini, para siswa sangat dituntut untuk bisa mandiri dan aktif dalam tentu terdapat kendala-kendala, salah satunya adalah penjelasan akan materi yang ada pada buku pelajaran kurang maksimal dilakukan oleh guru, sehingga terkadang siswa masih kebingungan dan kurang memahami materinya. Akibatnya dalam mengerjakan soal-soalpun siswa kesulitan dalam menjawab soal-soal yang menjadi salah satu alasan, kenapa sekarang ini para siswa banyak memanfaatkan alternatif jawaban di internet, untuk memabantu mereka dalam mengerjakan dan menyelesaikan tugas-tugas sekolah. Siswa sangat terbantu dengan adanya alternatif jawaban seperti ini, terkhusus dalam menjawab soal-soal yang dianggap sulit yang belum ditemukan berharap kunci jawaban evaluasi PAI kelas 12 halaman 98 99 100 101 ini bisa teman-teman manfaatkan dengan bijak dalam menyelesaikan semua tugas-tugas sekolah. Dan semoga jawaban ini bisa menjadi sebab teman-teman memperoleh nilai yang lebih baik lagi dari tugas-tugas yang telah dikerjakan.
Bismillahirrahmanirrahim.. Aisyah Radhiyallahu anha adalah Istri Rasulullah, Ummul mukminin. Aisyah dinikahi Rasulullah shalallahu alahi wa sallam atas perintah dari Allah Ta’ala yang disampaikan melalui malaikat Jibril, malaikat Jibril membawa foto Aisyah di atas kain sutra hijau untuk diperlihatkan kepada Rasulullah. Ada banyak keutamaan dan kemuliaan yang dimiliki ummul mukminin Aisyah radhiyallahu anha, 3 diantaranya dibahas dalam kajian kalian ini 1. Aisyah adalah orang yang paling dicintai oleh Rasulullah dari kalangan wanita. Suatu ketika Amr bin al-Ash bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling engkau cintai?” Beliau menjawab, “Aisyah.” “Dari kalangan laki-laki?” tanya Amr. Beliau menjawab, “Bapaknya.” HR. Bukhari dan Muslim 2. Syari’at tayammum disyari’atkan karena sebab beliau, yaitu tatkala manusia mencarikan kalungnya yang hilang di suatu tempat hingga datang waktu Shalat namun mereka tidak menjumpai air hingga disyari’atkanlah tayammum. Berkata Usaid bin Khudair, “Itu adalah awal keberkahan bagi kalian wahai keluarga Abu Bakr.” HR. Bukhari 3. Aisyah adalah wanita yang dibela kesuciannya dari langit ketujuh. Prahara tuduhan zina yang dilontarkan orang-orang munafik untuk menjatuhkan martabat Nabi Muhammad lewat istri beliau telah tumbang dengan turunnya 16 ayat dalam surah An-Nur secara berurutan yang akan senantiasa dibaca hingga hari kiamat. Allah Ta’ala mempersaksikan kesucian Aisyah dan menjanjikannya dengan ampunan dan rezeki yang baik. Oleh karenanya, apabila Masruq meriwayatkan hadits dari Aisyah, beliau selalu mengatakan, “Telah bercerita kepadaku Shiddiqoh binti Shiddiq, wanita yang suci dan disucikan.” ▶ 2 diantara 3 kemuliaan di atas kisahnya berawal dari sebuah kalung kesayangan yang dipakai Aisyah dan disebut Rasulullah sebagai “Kalung yang berkah”. Dalam shahih bukhari 2 kisah tentang kisah ini dikisahkan lansung oleh Aisyah. Para ulama menyampaikan terjadi diwaktu yang sama dan diperjalanan yang sama. Kisah Pertama Aisyah bertutur, “Bila Rasulullah ingin bepergian/perang, beliau mengundi di antara istri-istrinya. Siapa yang keluar undiannya, dialah yang dibawa serta dalam safar beliau. Dalam suatu safarnya guna melakukan peperangan,yaitu perang menghadapi Bani Mushthaliq dari Khuza’ah. Beliau mengundi di antara kami. Keluarlah namaku, hingga beliau membawaku dalam safar tersebut setelah turunnya perintah hijab. Sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, suatu malam dalam sebuah perjalanan perang, Aisyah yang mendapatkan undian mengikuti perjalanan suaminya tercinta, kehilangan kalungnya. Maka Rasulullah menghentikan perjalanan untuk mencarinya, lalu yang lainpun ikut berhenti. Saat itu telah habis persediaan air, maka mereka mendatangi Abu Bakar dan dan berkata “Cobalah kau lihat apa yang dilakukan Aisyah yang menyebabkan Rasulullah dan seluruh orang mencari-cari, padahal mereka tidak memiliki air.” Lalu Abu Bakar mendatangi Rasulullah yang saat itu meletakkan kepala beliau di atas pangkuan Aisyah dan tidur. Ia berkata “Engkau telah menghalangi Rasulullah dan orang-orang dari melanjutkan perjalanan, sedang mereka tidak mendapatkan dan memiliki air.” Keesokan paginya Rasulullah bangun dan hendak berwudhu untuk melaksanakan shalat Shubuh. Beliau mencari air, namun tidak menemukannya. Maka Allah Ta’ala menurunkan satu ayat kepada Rasulullah dengan memberikan rukhsah kemudahan dan keringanan berupa diperbolehkannya bersuci dengan cara bertayamum. Ayat yang dimaksud adalah ayat ke-43 dari surah An-Nisaa’. Di akhir matan hadits itu Aisyah menutup ceritanya dengan berkata “Lalu kami membangunkan unta yang aku tumpangi, maka kami menemukan kalung itu di bawahnya. Peristiwa Kedua Peristiwa kedua masih di perjalanan yang sama, sepulang dari peperangan. Aisyah radhiyallahu anha menuturkan kisahnya Suatu malam saat perjalanan telah mendekati kota Madinah, rombongan berhenti untuk istirahat beberapa waktu. Aku pun keluar dari Haudajku untuk menunaikan hajat, berjalan jauh sendirian hingga meninggalkan rombongan pasukan tersebut. Selesai menunaikan hajat, aku kembali ke untaku. Namun ternyata kalung yang sebelumnya melingkar di leherku hilang. Aku pergi mencarinya hingga aku tertahan beberapa waktu karenanya. Sementara itu datanglah orang-orang yang bertugas mengangkat Haudajku. Mereka memikul dan menaikkannya ke atas unta yang aku tunggangi dalam keadaan menyangka aku berada di dalam haudaj tersebut. Kenapa demikian? Karena kaum wanita di masa itu kurus-kurus, tidak diberati dengan daging. Mereka hanya makan sedikit makanan. Orang-orang yang mengangkat haudajku itu tidak merasa ganjil dengan ringannya tersebut. Aku sendiri saat itu masih sangat belia 15 tahun. Unta-unta pun diberangkatkan bersama rombongan pasukan. Mereka melanjutkan perjalanan di akhir malam. Sementara itu aku telah menemukan kalungku yang hilang, namun rombongan pasukan telah berlalu. Aku kembali ke tempat mereka tadinya beristirahat, namun tidak seorang pun yang kutemui. Aku menuju ke tempat diletakkannya haudajku dengan keyakinan mereka akan menyadari ketidakberadaan diriku bersama rombongan hingga mereka kembali ke tempat tersebut untuk mencariku. Ketika aku sedang duduk di tempatku berada, rasa kantuk menyerangku hingga aku tertidur. Saat itu Shafwan ibnul Mu’aththal As-Sulami Adz-Dzakwani berada di belakang pasukan. Ia tertinggal jauh dari rombongan. Sampailah ia di tempatku. Ia melihat ada orang yang sedang tidur. Ia pun mendatangi tempatku dan mengenaliku karena ia pernah melihatku sebelum turun perintah hijab. Aku terbangun dengan ucapan istirja’nya innalillahi wa innailaihi rajiun ketika melihatku. Kututupi wajahku yang tersingkap dengan jilbabku. Demi Allah, ia tidak mengajakku bicara satu kata pun. Aku pun tidak mendengar darinya satu kata pun selain ucapan istirja’nya hingga ia menderumkan untanya, lalu membelakangiku. Aku naik ke atas unta tersebut dalam keadaan dituntun oleh Shafwan sampai kami berhasil menyusul rombongan pasukan saat mereka istirahat pada siang hari yang panasnya menyengat. Maka binasalah orang yang binasa dengan kejadian tersebut. Yang paling berperan menyebarkan berita dusta itu adalah Abdullah bin Ubay bin Salul. Kami akhirnya tiba di Madinah. Di awal kedatangan kami, aku jatuh sakit selama sebulan. Sementara orang-orang tenggelam dalam pembicaraan seputar tuduhan dusta terhadapku, dalam keadaan aku tidak mengetahuinya sedikitpun. Hanya saja aku melihat keganjilan. Tidak kudapati kelembutan Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam sebagaimana yang biasa aku dapatkan bila sedang sakit. Rasulullah hanya masuk sebentar ke tempatku, mengucapkan salam, kemudian berkata kepada ibuku yang merawatku, “Bagaimana keadaan putri kalian?” Setelah itu beliau berlalu. Demikianlah keganjilan yang ada. Namun aku tidak menyadari bila ada berita jelek seputar diriku. Sampai akhirnya aku keluar dari rumahku dalam keadaan masih sempoyongan karena belum begitu pulih dari sakitku. Ummu Misthah menemaniku saat itu. Kami menuju ke tempat kami biasa buang hajat, dan kami tidak keluar untuk buang hajat kecuali pada waktu malam. Itu kami lakukan sebelum kami membuat WC dekat rumah kami. Perkara kami adalah sebagaimana perkaranya orang Arab yang awal dalam mencari tempat yang jauh untuk buang hajat. Dulunya kami merasa terganggu dengan bau tidak sedap bila membuat WC dekat rumah kami. Aku pergi bersama Ummu Misthah. Ia adalah putri Abu Rahm bin Abdi Manaf. Ibunya adalah putri Shakhr bin Amir, bibi Abu Bakr Ash-Shiddiq. Putranya bernama Misthah bin Utsatsah. Seselesainya dari urusan kami, aku dan Ummu Misthah kembali menuju ke rumahku. Ketika itu Ummu Misthah terpeleset, ia pun mengumpat anaknya, “Celaka Misthah.” “Jelek sekali ucapanmu”, tegurku, “Apakah engkau mencela seseorang yang pernah ikut dalam perang Badr?” “Wahai wanita yang lengah sedikit pengetahuan tentang tipu daya yang dilakukan manusia, tidakkah kau mendengar apa yang diucapkan oleh Misthah?” tanya Ummu Misthah. “Apa yang dikatakannya?” tanyaku. Ummu Misthah pun menceritakan kepadaku apa yang dikatakan oleh orang-orang yang menyebarkan berita dusta seputar diriku, hingga bertambah parahlah sakitku. Sesampainya di rumah, Rasulullah masuk menemuiku, mengucapkan salam lalu bertanya, “Bagaimana keadaanmu?” “Apakah engkau mengizinkan aku untuk pergi menemui kedua orangtuaku?”, pintaku kepada beliau. Ketika itu aku berniat mencari kepastian berita yang disampaikan Ummu Misthah kepada kedua orangtuaku. Rasulullah memberikan izin, maka aku pun mendatangi kedua orangtuaku. “Wahai ibunda, apa gerangan yang diperbincangkan orang-orang tentang diriku?” tanyaku kepada ibuku. “Wahai putriku, tenanglah jangan risau. Demi Allah, jarang sekali keberadaan seorang wanita jelita yang dicintai oleh suaminya, serta ia memiliki madu-madu melainkan dia akan banyak dibicarakan dan dicari-cari kesalahannya,” kata ibuku menghibur. “Subhanallah, berarti benar orang-orang membicarakan berita dusta tersebut?” tanyaku Sepanjang malam itu aku menangis hingga pagi hari air mataku tidak berhenti mengalir. Aku tidak bercelak untuk berangkat tidur, sampai pagi aku terus menangis. Ketika wahyu belum juga turun, Rasulullah memanggil Ali bin Abi Thalib dan Usamah bin Zaid untuk mengajak keduanya bermusyawarah, apakah menceraikan istrinya atau tidak. Usamah bin Zaid mengisyaratkan kepada Rasulullah dengan apa yang diketahuinya bahwa istri beliau terlepas dari tuduhan tersebut dan dengan apa yang diketahuinya dari kecintaan Rasulullah kepada istri beliau. “Wahai Rasulullah, tahanlah istrimu. Kami tidak mengetahui kecuali kebaikan,” ujar Usamah. Adapun Ali bin Abi Thalib menyatakan, “Wahai Rasulullah, Allah tidak akan menyempitkanmu. Wanita selain dia masih banyak. Namun bila engkau bertanya kepada budak perempuan itu Barirah, niscaya ia akan membenarkanmu.” Rasulullah kemudian memanggil Barirah. “Wahai Barirah, apakah engkau pernah melihat dari Aisyah sesuatu yang meragukanmu?” tanya Rasulullah. Barirah menjawab, “Tidak, demi Dzat yang mengutusmu dengan membawa kebenaran. Tidak pernah aku lihat darinya suatu perkara pun yang aku anggap jelek, kecuali sekadar ia seorang wanita yang masih belia, yang tertidur/lalai dari menjaga adonan roti untuk keluarganya hingga datanglah kambing memakan adonan tersebut.” Pada hari itu Rasulullah bangkit mencari bantuan untuk membalas perbuatan Abdullah bin Ubai bin Salul. Beliau bersabda di atas mimbar, “Wahai sekalian kaum mukminin! Siapakah yang dapat membantuku menghadapi seseorang yang telah menyakitiku dalam urusan ahli baitku? Demi Allah, aku tidak mengetahui dari istriku kecuali kebaikan. Namun mereka telah menyebut-nyebut seorang lelaki shofwan yang aku tidak mengetahui darinya kecuali kebaikan, dan ia tidak pernah masuk menemui keluargaku kecuali bersamaku.” Bangkitlah Sa’d bin Mu’adz Al-Anshari sembari berkata, “Wahai Rasulullah, aku akan menuntaskan sakit hatimu terhadap orang tersebut. Bila ia dari kalangan kabilah Aus kabilahnya, aku akan memenggal lehernya. Jika ia dari kalangan saudara-saudara kami, orang-orang Khazraj, engkau perintahkan pada kami apa yang engkau kehendaki dan kami akan melaksanakan titahmu,” ucapnya. Sa’d bin Ubadah, pemuka orang-orang Khazraj, berdiri dan ia sebelumnya seorang yang sempurna keshalihannya, namun ia dihinggapi semangat kesukuannya hingga ia berkata kepada Sa’d bin Mu’adz, “Dusta engkau, demi Allah. Jangan engkau bunuh dia dan engkau tidak akan mampu membunuhnya.” Usaid bin Hudhair, anak paman Sa’d bin Mu’adz, berdiri dan ikut angkat suara menujukan kepada Sa’d bin Ubadah, “Dusta engkau, demi Allah. Kami sungguh-sungguh akan membunuh orang itu. Kamu memang munafik yang ingin berdebat membela orang-orang munafik.” Bangkitlah emosi dua kabilah ini, Aus dan Khazraj. Sampai-sampai mereka ingin mengobarkan peperangan sementara Rasulullah masih berdiri di atas mimbar. Beliau terus menerus menenangkan kedua belah pihak hingga mereka terdiam dan beliau pun diam.” Aisyah melanjutkan kisahnya, “Aku tinggal di hariku tersebut dalam keadaan air mataku tidak berhenti mengalir dan aku tidak bercelak untuk berangkat tidur. Di pagi harinya, kedua orangtuaku telah berada di sisiku. Sungguh aku telah menghabiskan air mataku. Menangis sehari dua malam dan tidak bercelak. Air mataku tiada hentinya mengalir. Keduanya menyangka tangisan yang demikian akan membelah hatiku. Ketika keduanya sedang duduk di sisiku yang masih terus menangis, datang seorang wanita Anshar minta izin menemuiku. Aku mengizinkannya, ia duduk menangis bersamaku. Dalam keadaan demikian, Rasulullah masuk menemui kami. Beliau mengucapkan salam, kemudian duduk. Beliau belum pernah duduk di sisiku sejak tersebar fitnah tersebut. Telah lewat waktu sebulan, wahyu belum juga turun sehubungan dengan perkaraku. Rasulullah bertasyahhud ketika duduk, lalu berkata, “Adapun setelah itu, wahai Aisyah, sungguh telah sampai kepadaku berita tentangmu bahwa engkau begini dan begitu. Bila memang engkau terlepas dari tuduhan tersebut maka Allah akan menyatakan hal itu, Dia akan membersihkanmu dari tuduhan tersebut. Namun jika memang engkau berbuat dosa, minta ampunlah kepada Allah dan bertaubatlah kepada-Nya. Karena jika seorang hamba mengakui dosanya, kemudian ia bertaubat kepada Allah, Allah pasti akan menerima taubatnya.” Seselesainya Rasulullah dari ucapannya tersebut, menyusutlah air mataku hingga aku merasa tidak ada setetes pun yang keluar. Aku katakan kepada ayahku, “Mohon berilah tanggapan terhadap pernyataan Rasulullah itu.” “Demi Allah, aku tidak tahu apa yang harus kukatakan kepada Rasulullah,” jawab ayahku. “Berilah jawaban kepada Rasulullah, wahai ibu,” kataku kepada ibuku. Beliau menjawab yang sama dengan jawaban ayahku, “Demi Allah, aku tidak tahu apa yang harus kukatakan kepada Rasulullah.” Sebagai wanita yang masih belia belum banyak membaca/menghafal Al-Qur’an, aku menjawab, “Demi Allah, aku sungguh yakin kalian telah mendengar pembicaraan jelek tentang diriku hingga menetap di hati kalian dan kalian membenarkannya. Kalau aku katakan pada kalian bahwa aku berlepas diri dari tuduhan tersebut, dan demi Allah Dia tahu aku terlepas dari tuduhan tersebut, niscaya kalian tidak akan membenarkanku tidak percaya dengan pengingkaranku. Kalau aku mengakui perkara tersebut benar adanya –padahal demi Allah Dia Tahu aku terlepas dari tuduhan tersebut– kalian akan membenarkan pengakuanku. Demi Allah, aku tidak mendapatkan permisalan untuk kalian kecuali ucapan ayah Yusuf Nabi Ya’qub yang berkata Maka kesabaran yang baik itulah kesabaranku. Allah sajalah yang dimintai pertolongan atas apa yang kalian ceritakan’.” Yusuf 18 Kemudian aku palingkan wajahku ke arah dinding sembari berbaring di atas tempat tidurku. Ketika itu aku yakin diriku lepas dari tuduhan itu dan Allah akan membersihkan namaku karena memang aku tidak melakukannya. Akan tetapi, demi Allah, aku tidak pernah menyangka Allah akan menurunkan wahyu-Nya yang akan terus dibaca tentang perkaraku. Karena, bagiku urusan diriku terlalu rendah hingga Allah perlu membicarakannya dengan wahyu yang akan dibaca. Harapanku hanyalah agar Rasulullah bermimpi dalam tidurnya di mana dalam mimpi tersebut Allah menunjukkan terlepasnya diriku dari tuduhan itu. Demi Allah, Rasulullah belum meninggalkan tempat duduknya dan belum ada seorang pun dari keluargaku yang beranjak keluar tatkala turun wahyu kepada beliau. Mulailah beliau mengalami kepayahan sebagaimana yang biasa beliau alami bila wahyu sedang turun. Sampai-sampai keringat semisal mutiara mengucur deras dari tubuh beliau padahal hari sangat dingin, karena beratnya ucapan yang sedang diturunkan. Tatkala berlalu kejadian itu dari diri beliau, beliau tertawa. Awal kalimat yang beliau ucapkan pada Aisyah adalah, “Wahai Aisyah, sungguh Allah telah membersihkanmu dari tuduhan tersebut.” “Bangkitlah menuju kepada Rasulullah,” perintah ibuku. “Demi Allah, aku tidak akan bangkit menuju kepadanya dan tidak ada yang kupuji kecuali Allah,” ucapku. Allah menurunkan ayat “Sesungguhnya orang-orang yang datang membawa berita dusta itu adalah golongan dari kalian juga maka janganlah kalian menyangka bahwa berita dusta itu buruk bagi kalian bahkan baik bagi kalian. Tiap-tiap orang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita dusta itu, baginya azab yang besar. Mengapa di waktu kalian mendengar berita dusta itu orang-orang mukmin dan mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri dan mengapa tidak berkata, Ini Mengapa mereka yang menuduh itu tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu? Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi maka mereka itulah orang-orang yang dusta di sisi Allah. Sekiranya tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kalian semua di dunia dan di akhirat, niscaya kalian ditimpa azab yang besar, dikarenakan pembicaraan kalian tentang berita bohong itu. Ingatlah di waktu kalian menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kalian katakan dengan mulut kalian apa yang sedikitpun tidak kalian ketahui sementara kalian menganggapnya sebagai sesuatu yang ringan saja, padahal perkaranya besar di sisi Allah. Mengapa di saat mendengar berita bohong tersebut kalian tidak berkata, “Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan hal ini. Maha Suci Engkau, wahai Rabb kami, ini adalah dusta yang besar. Allah memperingatkan kalian agar jangan kembali berbuat seperti itu selama-lamanya, jika memang kalian orang-orang yang beriman. Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kalian. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Memiliki hikmah. Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar berita perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui sedang kalian tidak mengetahui. Sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kalian semua niscaya kalian akan ditimpa azab yag besar, dan Allah Maha Penyantun lagi Maha Penyayang. Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengikuti langkah-langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan keji dan mungkar. Sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kalian, niscaya tidak seorang pun dari kalian bersih dari perbuatan keji dan mungkar itu selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” An-Nur 11-21 Ketika Allah menurunkan ayat yang menyatakan sucinya diriku dari tuduhan dusta tersebut, ayahku Abu Bakr Ash-Shiddiq yang biasanya memberikan nafkah kepada Misthah bin Utsatsah karena hubungan kekerabatan dengannya dan juga karena kefakiran Misthah, menyatakan, “Demi Allah, aku selamanya tidak mau lagi memberikan sedikitpun nafkah kepada Misthah setelah ia membicarakan apa yang ia bicarakan tentang Aisyah.” Allah menurunkan ayat-Nya sebagai teguran “Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kalian bersumpah bahwa mereka tidak akan memberi bantuan kepada kerabatnya, orang-orang miskin, dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan serta berlapang dada. Apakah kalian tidak ingin Allah mengampuni kalian? Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” An-Nur 22 Abu Bakr berkata, “Tentu, demi Allah, aku senang bila Allah mengampuniku.” Beliau pun kembali memberikan nafkah kepada Misthah sebagaimana semula. “Demi Allah, aku tidak akan menghentikan nafkah ini dari Misthah selama-lamanya,” ucapnya. Rasulullah sempat bertanya kepada Zainab binti Jahsy tentang perkaraku. “Wahai Zainab, apa yang engkau ketahui atau engkau lihat dari diri Aisyah?” tanya beliau. “Wahai Rasulullah, aku menjaga penglihatan dan pendengaranku. Aku tidak mengetahui darinya kecuali kebaikan,” jawab Zainab. Di antara istri-istri Rasulullah , Zainab inilah yang menyaingiku dalam hal upaya ingin lebih dekat dengan Rasulullah dan mendapat tempat lebih di hati beliau. Namun Allah menjaga Zainab dengan sifat wara-nya sehingga ia tidak berucap buruk tentang diriku. Adapun saudaranya, Hamnah binti Jahsy, turut menyebarkan berita dusta tersebut karena ingin membela memenangkan saudarinya. Ia pun celaka bersama orang-orang lain yang turut menyebarkan berita dusta tersebut.” HR. Al-Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya Demikianlah penukilan secara makna dari hadits yang panjang tentang kisah fitnah yang menimpa Ummul Mukminin Aisyah yang dikenal dengan haditsul ifk. Catatan 1ayat ini turun setelah perintah berhijab. Karena itulah Aisyah dibawa dalam sekeduphaudajnya yang tertutup dari pandangan orang-orang dan sekedup itu diletakkan di atas punggung unta. Karena bagian dalam sekedup itu tertutup dari pandangan mata, maka orang-orang yang memikulnya tidak tahu apakah Aisyah ada di dalamnya atau tidak, sebagaimana akan disebutkan dalam kelanjutan kisah Aisyah ini. 2 Karena ada atau tidak adanya Aisyah di dalamnya sama saja bagi mereka, tidak terlalu terasa bedanya, disebabkan ringannya tubuh Aisyah. 3 Aisyah sudah menyatakan tubuhnya kurus, ditambah lagi usianya masih kecil, belum genap 15 tahun, sehingga lebih menunjukkan ringannya tubuhnya. Seakan-akan Aisyah juga ingin menunjukkan udzur dari perbuatannya yang demikian bersemangat mencari kalungnya yang putus. Juga kenapa ia mencarinya sendirian tanpa mengajak teman atau memberitahu suaminya. Hal itu terjadi karena usianya yang masih kecil dan minim pengalaman sehingga tidak menyadari akibat yang akan didapatnya. Dari sini didapatkan pula faedah bahwa orang-orang yang memikul sekedup Aisyah sangatlah beradab terhadap Aisyah, amat jauh dari perbuatan mengintip isi sekedup. Sehingga ketika mereka mengangkat sekedup tersebut mereka tidak tahu bahwa Aisyah tidak berada di dalamnya. 4 Misthah dan ibunya termasuk muhajirin awwalin orang-orang yang pertama berhijrah ke Madinah. Ayah Misthah meninggal saat ia masih kecil, maka ia diasuh oleh Abu Bakr karena kekerabatannya dengan ibu Misthah. 5 Surah An-Nur ini melingkupi perintah dan larangan dalam rumah tangga dan sosil. 6 Qs. An Nur16 ” Dan mengapa kamu tidak berkata, ketika mendengarnya, “Tidak pantas bagi kita membicarakan ini. Mahasuci Engkau, ini adalah kebohongan yang besar.” Selayaknya sebagai seorang mukmin apabila datang kabar berita bohong,fitnah atau yang tidak jelas sumbernya, maka kita mengatakan “ini bukan wilayah kami, tidak pantas kami membicarakan ini”. Kita saat ini hidup di zaman fitnah,maka berhati-hatilah dengan setiap kabar yang datang kepada kita. Seperti kalimat Abu Ayyub Al anshari kepada Istrinya “ini bukan wilayahmu, Aisyah lebih baik dari pada kamu, jika kamu saja tidak berani melakukan hal itu, maka bagaimana mungkin dengan Aisyah”. Oleh karena itu, hendaknya seseorang tidak mencela mukmin yang lain, karena yang demikian sama saja mencela dirinya sendiri, dan jika seseorang tidak bersikap seperti ini, maka yang demikian menunjukkan imannya lemah dan tidak memiliki sikap nasihah tulus terhadap kaum muslimin. Allahu a’lam… Ambi Ummu Salman Depok,20062016 Disarikan dari materi Dauroh Wanita dalam AlQur’an yang disampaikan oleh Ashari,Lc di masjid Al Muhajirin Depok.
berikut ini yang bukan kandungan dari hadits aisyah radhiyallahu anha